Santapan Rohani


Random Hadith Widget

Monday, March 4, 2013

Keperluan Untuk Berdakwah


Dari Anas r.a. berkata, “Rasulullah bersabda, “Perintahkanlah yang makruf meskipun kamu belum mengamalkannya, dan cegahlah kemungkaran meskipun kamu belum meninggalkan seluruhnya.” (HR Thabrani)

Seringkali seorang muslim merasa berat atau enggan melakukan kerja dakwah, menyuruh kepada makruf (kebaikan) dan mencegah kemungkaran. Ia merasa masih banyak kekurangan, banyak melakukan kesalahan dan dosa serta sering melalaikan kewajipan agama.

Untuk berdakwah kita tidak harus menunggu diri kita menjadi individu yang sempurna tanpa dosa. Kita harus menyuruh kepada kebaikan meskipun kita belum mampu melaksanakannya. Begitu juga mencegah kemungkaran meskipun kita belum boleh meninggalkan seluruhnya.

Setiap manusia tidak luput dari melakukan kesalahan dan dosa, namun kerja-kerja dakwah harus diteruskan kerana ia merupakan kewajipan yang mesti kita laksanakan sehingga ajal datang menjemput kita.

Sesungguhnya mengajak kepada kebaikan adalah suatu kebaikan dan kewajipan bagi orang yang berilmu. Mengajak kepada kebaikan dan mengerjakannya adalah suatu kewajipan. Tuntutan untuk melaksanakan kedua-duanya (mengajak kepada kebaikan dan mengerjakan kebaikan) adalah satu tuntutan yang tidak akan gugur dengan hanya mengerjakan salah satunya (Menurut pendapat yang paling sahih dari para ulama salaf dan khalaf).

Seandainya tidak boleh memberikan nasihat kepada orang lain kecuali orang yang terpelihara dari dosa, maka tidak ada seorang pun yang berhak memberikan nasihat selain Rasulullah S.A.W. Bukankah tidak ada yang bersih dari dosa kecuali para nabi dan Rasul?

Sa’id bin Jubair berkata, “seandainya seorang tidak boleh menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran sehingga ia menjadi orang yang bersih dari semua dosa, maka tidak ada seorang pun yang akan menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran”.

Khalifah Umar Bin Abdul Aziz semasa berceramah dan memberi nasihat telah berkata: “Sesungguhnya aku mengatakan hal ini, padahal aku tahu tidak ada seorang pun yang lebih banyak dosanya melebihi aku. Maka aku memohon ampunan kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.”

Beliau juga pernah menulis surat kepada gabenur di mana pada baris akhir surat ditulis, “Sesungguhnya aku memberimu nasihat seperti ini, padahal aku sendiri banyak lalai atas diriku sendiri dan tidak mampu mengendalikan diri dalam banyak hal. Seandainya seseorang tidak boleh memberi nasihat kepada saudaranya sampai ia mampu mengendalikan dirinya, maka perkara kebaikan, menyeru kepada kebaikan dan mencegak kemungkaran tidak akan dipeduli. Soal halal, haram tidak diambil kisah.

Sesungguhnya syaitan dan pengikutnya menginginkan agar tidak ada seorangpun yang mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Hendaklah kita menyedari bahawa mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, memberi nasihat dan pelajaran kepada orang lain bererti kita memiliki peluang yang lebih baik untuk menjadi lebih baik, bahkan yang terbaik. Allah berfirman yang bermaksud:

“Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani (orang yang sempurna ilmu dan bertaqwa kepada Allah), kerana kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu selalu mempelajarinya,” (Surah Ali Imran ayat 79)

Semoga apa yang dinyatakan di atas menjadi dorongan dan motivasi kepada kita untuk melaksanakan kerja yang mulia iaitu mengajak manusia untuk beriman kepada Allah dan mencegah kemungkaran. Baikilah diri sendiri dan ajaklah orang lain... Ganjarannya adalah syurga....

Rujukan:

Fakhruddin Nursyam, Lc, Syarah Lengkap Arba’in Da’awiyah – Teladan Aplikatif Dakwah Rasulullah, Bina Insani Press Solo, September 2006

No comments:

Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Waktu Solat